Siapa Itu Wayan Tagen ?

B ERBEDA yang lain, Wayan Tagen adalah murid Arie Smit yang sengaja datang ke tempat latihan melukis dengan murid untuk meminta diajari melukis. ”Sebenarnya takut, tapi saya memberanikan diri meminta belajar,” ujarnya. Saat itu Tagen diantar orang tuanya setelah tahu ada beberapa anak dari Penestanan yang sudah belajar di tempat Arie Smit. Arie saat itu langsung menyuruhnya bergabung tanpa ditanya atau dites untuk mengerjakan sesuatu. ”Dia memang suka menolong orang. Mungkin dia tahu keluarga saya sangat miskin,” ujar Tagen, yang sebelum belajar sempat menjadi kulipengangkut kopi di Tabanan. Meski masih berada dalam corak Young Artists, Tagen mengembangkan ciri khasnya sendiri, yakni menciptakan figur tanpa wajah di lukisannya sehingga sempat diprotes kawan-kawannya. Tapi, ketika ditanyakan kepada Arie, justru ia mendapat dukungan. ”Itu lukisan kamu, tidak jadi masalah kalau kamu ingin seperti itu,” kata Tagen, 73 tahun, menirukan komentar Arie. Saat ini Tagen menggunakan gaya lukisannya untuk membuat karya mengenai kehidupan di perkotaan dan bukan hanya kehidupan di perdesaan Bali.

Tagen mengaku, dalam hal menjual lukisan, dia kurang agresif menjualnya di art shop atau membuat pameran. ”Saya menunggu orang datang ke rumah saja,” ujarnya. Sebab, bila datang, orang itu akan bisa mengobrol panjanglebar sehingga dia tahu sejauh mana ketertarikan orang itu dan kemampuan belinya. ”Jadi samasama enak saat menentukan harga,” ucapnya. Saat ini Tagen, yang sering mengalami masalah pernapasan, masih melukis. ”Saya percaya ini jadi jalan hidup saya,” katanya.