Sejahterakan Petani Lewat Kemitraan

Pemerintah menilai salah satu solusi menyejahterakan petani adalah dengan mengendalikan fluktuasi harga cabai. Fluktuasi yang menyebabkan inflasi ini di antaranya terjadi karena adanya permasalahan off farm, panjangnya rantai pa sok dari petani hingga masuk ke pasar.

Untuk memotong panjangnya rantai pa sok, bisa dilakukan dengan menjalin ke mitraan, baik itu dengan pemerintah maupun swasta. Terkait kemitraan itu, 1 Maret 2016, Dirjen Hortikultura, Spudnik Sujono menandatangani nota kesepahaman dengan Pimpinan PT Gunung Agro Mas Lestari (GAML) di Solo. MoU ini ditujukan untuk menstabilkan harga cabai di Jakarta dan sekitarnya dengan memasok cabai ke Jakarta dan sekitarnya. Kemitraan dengan Avalis

“Selama ini rantai pasok dari petani menuju pedagang besar terlalu panjang,” terang Pieter G. Tangka, Dirut PT GAML. Menurutnya, bandar pemasok dan pedagang besar/grosir di Pasar Induk merupakan dua agen yang sangat menentukan harga. “Semisal kedua pihak menentukan harga Rp20 ribu/kg, maka harga sampai ke konsumen sebesar Rp35 ribu/kg. Dan setelah meneri ma pembayaran, harga yang sampai ke petani ha nya Rp9.000/kg. Jadi kalau harga tinggi di konsumen itu belum tentu harga tinggi juga di petani,” urainya. Avalis, menurut, Pieter berperan memangkas panjangnya rantai pasok yang terurai dari petani, penebas, pengepul, bandar pemasok hingga ke pedagang besar.

Semisal pedagang besar membeli cabai dari avalis dengan harga Rp20 ribu/kg, maka petani juga akan menerima harga Rp20 ribu/kg. Avalis sendiri merupakan bagian atau kesatuan dari petani. Ia wajib mengeluarkan modal dalam rangka pembiayaan input produksi sehingga dibutuhkan juga MoU antara avalis dan petani. Sebagai avalis, Pieter menanggung seluruh biaya produksi, sedangkan petani cu kup menyediakan lahan dan tenaga saja.

Persentase pembagian hasil yang disepakati antara Pieter dengan petani adalah 50:50. Kemitraan dengan Industri Petani juga dapat bermitra langsung dengan industri pengolahan cabai. Salah satu kemitraan yang telah terjalin adalah antara PT Indofood dengan Kelompok Tani Bina Mitra Usaha Tani Hortikultura “MultiAgro Makmur” di Jember. Pola kemitraan perusahaan dengan petani juga memotong jalur distribusi yang panjang. Indofood memberikan pinjaman kepada kelompok taniuntuk modal produksi.

David Tjiptahardja, perwakilan PT Indofood dalam diskusi terbatas tentang cabai Maret silam, mengatakan, pihaknya menjalankan kemitraan dengan petani sejak Februari 2009. Kesepakatan antara industri itu dengan kelompok tani meliputi harga, kualitas, kuantitas, dan kon tinuitas, sistem dan kemitraan, dan kesepakatan waktu.

Selain itu, petani harus menanam komoditas sesuai kebutuhan perusahaan. Selain menandatangani kesepakatan, Indofood melakukan pendampingan mulai dari sosialisasi proses penanaman cabai, perawatan, pemetikan, dan penyortiran yang baik. Petani juga diinformasikan tentang persyaratan higienis cabai untuk pengiriman ke pabrik. Sutrimo, Ketua Kelompok Tani MultiAgro Makmur mengakui, pendampingan di lapangan penting untuk dilakukan. “Kami juga diajari soal administrasi berorientasi bisnis. Ada keterbukaan harga,” ujarnya. G