Pembenihan Pikat Pembudidaya Muda

Lele menjadi komoditas budidaya air tawar yang pangsa pasarnya terus terbuka lebar. Ikan berkumis ini relatif mudah dibudidayakan sehingga produksi bisa me limpah dan harga jual lebih terjangkau bagi masyarakat. Usaha budidaya lele terus tumbuh di berbagai daerah. Tak ha nya pemain kawakan, usaha pembenihan dan pembesaran lele juga kian memikat pagi pembudidaya muda.

Salah satunya adalah Muhamad Reza Pahlevi, pemuda yang turun sebagai pembenih lele di daerah Ciomas, Bogor. Ia mulai merintis usaha budidaya khususnya segmen pembenihan lele pada 2015. Sebelum jadi pembudidaya ia bekerja sebagai pegawai swasta dan berwirausaha di bidang pangan olahan (keripik). Reza tertarik menjalani usaha pembenihan lele karena melihat pa sar benih lele sangat potensial.

“Rata-rata pembenih kewalahan untuk menyanggupi permintaan pasar, peluang pasar benih lele nasional bisa sampai 500- 600 juta ekor per tahun, sementara di nas kota bogor hanya memproduksi 100 juta ekor per tahun,” ucap Reza kepada AGRINA belum lama ini di Bogor.

Alumnus Jurusan Teknologi Pangan IPB, angkatan 2007, ini menggunakan indukan dari strain sangkuriang dan bur ma. “Indukan sangkuriangnya dida pat dari Balai Pengembangan Bu didaya Air Tawar, Cijengkol, Subang dan indukan burma dari Jawa Timur, ada sertifikatnya,” terang Reza. Pemijahan Alami Sebagian besar, Reza masih mene rapkan cara-cara alami dalam membenihkan lele.

Ia melakukan proses pemijahan terhadap lele dengan melihat parameter warna kelamin indukan, “Parameternya yang siap kawin dilihat dari kelaminnya, kelaminnya warna merah muda atau pink kalau betina yang siap kawin. Untuk indukan betina juga bisa dipegang sisi-sisi perutnya. Sebelah kanan-kiri itu dia udah kayak hamil, berarti sudah berisi telur yang matang.

Dari indukan yang jantan juga sama, dari fisiknya dari warna aja,” paparnya. Masing-masing indukan baik jantan ataupun betina harus memiliki kualitas yang baik agar menghasilkan benih yang banyak. Tingkat kematangan gonad dari kelaminnya harus diperhatikan. “Sering yang kita hadapi di lapangan itu, betina sudah bertelur tapi sperma jantannya kurang bagus, tidak membuahi telur.

Kualitas sperma jantannya harus tokcerlah,” ungkap Reza dengan senyum. Setiap siklus pemijahan per bulan menghabiskan biaya sekitar Rp4 juta yang terdiri dari pakan, sewa lahan, transpor dan biaya lainnya. Kapasitas benih yang ia produksi setiap siklus sekitar 50 ribu ekor dengan omzet seki tar Rp15 juta per bulan. Ia menargetkan dapat memproduksi 200 ribu