Wujudkan Konservasi Otan, Bukti Sawit Berkelanjutan

Salah besar jika perkebunan sawit sebagai penyebab kerusakan lingkungan. Mari mengunjungi Pulau Salat di Desa Pilang, Kec. Jabiren Raya, Kab. Pulang Pisau, Kalteng. Anda akan menemukan otan asik bercengkrama di alam bebas, kawasan suaka milik PT Sawit Sumber Mas Sarana (SSMS) Tbk. yang dikelola Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF).

Menjadi Solusi

Pada 2015, ulas Vallauthan Subraminam, SSMS bekerja sama dengan BOSF mewujudkan keberlanjutan orangutan (otan) dan lingkungannya. “Kami mencarikan solusi untuk menjalankan biodiversity dan sustainability. Kami bekerja sama untuk memastikan ini bisa dilestarikan dan mereka (otan) bisa dilepaskan ke alam,” ujar Valla. Sejak itu, sudah 24 otan dilepasliarkan. Tahun ini SSMF berencana melepasliarkan 100 otan.

Presiden Direktur SSMS itu menegaskan, “Sawit merusak lingkungan itu tidak benar. Kami bisa eksis dan menjadi bagian dari solusi. Ini menunjukkan kita perusahaan yang bertanggung jawab.” Langkah ini, lanjutnya, adalah suatu permulaan dan bentuk komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan. Sudah 10% atau 6.000 ha lahan SSMS menjadi area konservasi.

Menurut Jamartin Sihite, CEO BOSF, Pulau Salat dipilih sebagai suaka alam otan karena letaknya terisolasi oleh sungai sehingga memudahkan isolasi dan pengawasan, sepanjang tahun dialiri air, dan tersedia pakan alami, seperti buah-buahan dan rayap. “Kondisi menyerupai hutan jadi hampir sama kondisinya dengan di hutan, populasi orang utan liar sekitar 0,01% di dalamnya,” kata Jamartin sambil menjelaskan terdapat 700 otan yang mengantre lepas liar.

Sebelum kembali ke hutan, para otan bersekolah di Pusat Rehabilitasi Nyaru Menteng yang terletak di Kec. Bukitbatu, Palangkaraya, Kalteng. Ada 448 otan belajar ‘kepribadian’ di sini. Sekitar jam tujuh pagi, jelas Denny Kurniawan, otan pergi ke sekolah hutan bersama baby sitter untuk belajar cara mendapatkan makan alami. Contohnya, cara mencari rayap di dalam kayu atau memanjat untuk mengambil buah-buahan yang bergantungan di pohon. Sekolah berakhir jam tiga sore.

Kemudian, kata Program Manager Pusat Rehabilitasi Nyaru Menteng itu, otan menghabiskan waktu bersama baby sitter di taman bermain hingga matahari tenggelam. Sampai maksimal berumur 7 tahun, otan siap dipralepas liar ke Pulau Salat selama setahun sebelum dibebaskan di hutan Taman Nasional Bukit Raya Baka dan hutan lindung Bukit Batikap, Kalteng.

Ekowisata

SSMF adalah perusahaan sawit anggota Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO). Karena itu upaya SSMS dan BOSF melestarikan lingkungan dan mahluk hidup mendapat sambutan positif dari RSPO.“Ini model kerja sama yang baik. Tanggung jawab lingkungan dan sosial setiap negara berbeda-beda, salah satu bentuknya di Indonesia bekerja sama dengan BOSF melindungi orangutan,” ujar Tiur Rumondang, Direktur Eksekutif RSPO Indonesia.

Sugianto Sabran, Gubernur Kalteng pun mengapreasiasi langkah SSMS dan BOSF. “Saya mengimbau pengusaha lain di Kalteng, baik perkebunan, pertambangan, maupun HPH membuat hutan konservasi. Pengusaha membangun ekonomi tetapi tetap menjaga lingkungan,” paparnya. Ia berencana membuat Perda tentang kewajiban perusahaan membangun area konservasi sekitar 10%-20% dari luas lahan.

Ke depan, Pulau Salat akan dijadikan areal wisata dengan melibatkan masyarakat sekitar sehingga perekonomian daerah ikut berkembang. “Ini murni untuk konservasi tapi melibatkan warga desa, ekowisata untuk daerah,” tandas Valla.

Imunisasi Jagung Bikin Untung

Masa pancaroba mengakibatkan kondisi lembap kering pada sekitar pertanaman jagung. Kondisi ini, terang Darmawan Sandi Susilo, akan mendukung perkembangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). “Jadi, hama akan lebih meningkat perkem bangannya. Hama pengisap daun dan ulat akan semakin cepat siklus reproduksinya,” kata Marketing Communication Manager PT Bina Guna Kimia itu kepada AGRINA.

Sejak Awal

Sampai Generatif Menurut Darmawan, OPT jagung mulai muncul sejak awal pertumbuhan sampai masa generatif. “Hama pengisap atau lalat bibit dan penyakit bulai juga awalnya ter – bawa oleh benih dan tinggal dalam tanah. Sedangkan ulat penggerek tongkol akan mulai menyerang saat generatif,” paparnya lebih lanjut. Hama pengisap jagung yang berasal dari larva pemilik nama latin Atherigona sp. bisa menyebabkan kegagalan panen sekitar 20%. Hama penggerek tongkol bernama ilmiah Helicoverpa armigera membuat petani kehilangan panen jagung sebanyak 30%. “Penggerek tongkol menghilangkan hasil 30%-an karena mengurangi jumlah bulir dan mengurangi pemben tukan tongkol,” terang dia.

Sedangkan, penyakit bulai yang disebabkan cendawan Pero nosclerospora maydis mengakibatkan gagal panen total alias kehilangan hasil 100%. “Bulai ada yang endemik dan ada yang terbawa benih. Jadi tergantung benih dan tanah,” ulas pria asal Magelang, Jawa Tengah itu. OPT terutama hama pada fase vegetatif (awal pertumbuhan), Darmawan menjelaskan, dapat dicegah keha dirannya dengan menggunakan pestisida perlakuan benih. P e n g g u n a a n fung isida dan insektisida akan m e m p e r c e p a t pengendalian OPT yang sudah melebihi ambang batas. Khusus untuk hama, sambung pria kelahiran 28 Februari 1976 itu, bisa meng gunakan Marshal 25DS dengan dosis 5 g/kg benih.

“Marshal 25DS digunakan di benih sebagai imunisasi untuk memperkuat daya tahan tubuh tanaman. Jika perlindung an awal bagus, maka pertumbuhan selanjutnya bagus, tinggal melindungi fase generatif,” dia menambahkan. Marshal 25DS merupakan insektisida sistemik perlakuan benih yang bisa melindungi tanaman jagung dari serangan hama lalat bibit, semut hitam, orongorong, belalang, dan jangkrik. Menghadapi musim pancaroba dan penghujan, Darmawan menekankan petani untuk memperhatikan imunisasi benih. “Penggunaan imunisasi benih atau pestisida perlakuan benih akan mengurangi serangan OPT di awal pertanaman yang mengakibatkan pengurangan biaya pengendalian OPT lebih lanjut. Perlindungan selama masa vegetatif dan generatif akan menjaga hasil panen pada kondisi optimal,” rangkumnya.

Menyelisik Gonjang-ganjing Impor Beras

“KEJADIAN gonjang-ganjing perberasan kita saat memasuki masa paceklik pada akhir dan awal tahun kembali terulang. Kementerian Pertanian mengatakan stok beras cukup tapi di sisi lain harga gabah di tingkat petani dan harga beras di tingkat konsumen cende rung naik. Hal ini tentunya bertolak belakang dengan hukum penawaran dan permintaan,” ungkap Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec., Menteri Pertanian periode 2000 – 2004, saat diwawancara AGRINA.

Mengapa hal tersebut berulang?

Gonjang-ganjing mengenai importasi beras bebe rapa minggu belakangan ini sebenarnya tidak perlu terjadi. Hal itu sangat melelahkan dan mencemaskan bu at para pengambil kebijakan dan pengamat di bi dang pangan. Sebenarnya selama tiga tahun Kabinet Kerja berjalan tidak terjadi gonjang-ganjing seintens saat ini. Agar hal tersebut jangan berulang pada masa yang akan datang perlu dicari sumber-sumber penyebab terjadinya gonjang-ganjing tersebut.

Ada tiga sumber utama penyebab masalah per berasan kita. Pertama, tidak tersedianya data akurat dan bisa dipercaya oleh semua pihak yang terlibat, baik di pemerintahan, dunia usaha, pengamat, maupun akademisi. Bahkan masing-masing mereka mengklaim mempunyai data. Sayangnya, data di antara mereka sering berbeda sehingga mengaki bat kan implikasi kebijakan yang disodorkan akan berbe da bahkan bertabrakan, khususnya keputusan akan impor beras atau tidak. Masalah data ini sudah masalah klasik.

Dulu Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi sumber data pegangan kendatipun masih banyak kekurangannya. Namun itu tetap digunakan sebagai sumber perumusan kebijak an. Kini dengan tidak adanya pegangan bersama, ma ka dimungkinkan terjadinya debat yang tidak berke su dahan pada akhirnya diselesaikan dengan “kekua sa an” dan bukan berdasarkan nalar yang bersumber da ri data. Jika masalah data ini tidak kunjung diselesai kan, maka gonjang-ganjing serupa akan terus berulang.

Alasan berikutnya?

Kedua, kita terjebak dengan konsep kedaulatan pa ngan, ketahanan pangan, dan swasembada yang di reduksi menjadi konsep tidak boleh impor. SUARA AGRIBISNIS Bungaran Saragih Sebenarnya dalam konsep kedaulatan pangan, ketahanan pangan, dan swasembada dibenarkan untuk mengimpor pa ngan dan ini bukanlah dosa. Barangkali kita perlu ber pikir ulang untuk mengembangkan suatu filosofi ten tang kedaulatan, ketahanan, dan swasembada dalam kaitannya dengan kebijakan impor dan ekspor pangan.

Karena itu, kita perlu berpikir jernih dan fair mengenai peranan impor dan ekspor pangan terhadap ketahanan dan kedaulatan pangan kita. Tidak ada negara dengan konsep yang no import. Dan ketiga, tidak jelasnya konsep koordinasi dalam perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan me ngenai pangan.

Belakangan ini ada kecenderungan ma sa lah pangan yang sifatnya intersektoral dan inter tem poral diselesaikan secara sektoral dan temporal (jangka pendek), akibatnya menimbulkan disharmoni. Semen tara yang dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan pa ngan kita adalah konsep intersektoral dan intertem poral (jangka panjang). Barangkali hal ini diperparah dengan belum dilaksana kannya UU No. 18/2012 tentang Pangan, terutama Pasal 126 tentang kelembagaan yang menangani bidang pangan.

Dalam UU Pangan sebelumnya, pada masa pe merintahan Presiden Megawati Soekarnoputri telah di bentuk Dewan Ketahanan Pangan (DKP) yang langsung dipimpin oleh Presiden dan Ketua Harian dijabat Men teri Pertanian. Pada masanya dewan tersebut berhasil me minimalkan gonjang-ganjing seperti saat ini. Kini dengan adanya UU Pangan yang baru, kelembagaan ini harusnya sudah diubah namun belum diwujudkan da lam bentuk Keputusan Presiden.

Sebaiknya itu perlu segera dilaksanakan agar gonjang-ganjing yang mele lah kan dan mencemaskan tentang pangan tidak ter ulang lagi. Guna mengisi kekosongan lembaga tersebut, melalui Keppres dapat dihidupkan dan difungsikan kembali untuk sementara DKP yang ada sambil mempersiapkan ke lembagaan baru.

DKP yang ada saat ini sudah mem pu nyai struktur, bujet, dan personil yang cukup mema dai untuk melaksanakan koordinasi kebijakan pangan na sional. Namun perlu penegasan ulang mengenai ke wenangan dan tanggung jawab masing-masing per sonil atau lembaga dalam melaksanakan kebijakan pangan nasional.

Arsenal sedang Mendapatkan Ancaman Serius

Tim Liga Inggris Mana ya yang kira kira menang – Dalam menyimak sebuah pertandingan bola, khususnya di ajang Liga Inggris. Tentunya setiap tim yang bersaing memiliki kapasitas yang cuku menjanjikan dan bisa memberikan banyak kejutan pada sebuah pertandingan, bahkan hal ini juga bisa dilakukan tim papan bawah.

Setiap tim yang ada di kasta Tertinggi Liga Inggris, setidaknya telah melewati rintangan yang sangat ketat, mulai dari agenda yang sangat padat, persaingan yang sangat ketat dan juga tingkat kompetisi yang beratmosfer tinggi. Berkenaan dengan ini, tentunya hanya tim yang berbekal pengalaman tinggilah yang mampu berada di papan atas.

Kecenderungan tersbut sendiri dirasakan begitu sangat menyulitkan bagi tim yang telat panas ataupun yang mengalami masalah dengan kedalaman pemain. kondisi ini juga dialami oleh kubu Arsenal yang kini belum sanggup menembus papan atas, mengingat persaingan di papan engah sendiri sudah menyulitkan.

Keadaan inilah yang membuat kompetisi liga Inggris menjadi sangat menarik dan menjadi sorotan karena potensi untuk bisa tampil lebih baik secara konsisten sangat sulit dilakukan. Tentu saja pencapaian dari Liverpool menjadi salah satu yang bisa mencatatkan rekor baru jika terus bertahan hingga akhir musim.

Efektivitas Serangan Arsenal Bermasalah

Kegagalan yang selalu diraih pada 3 laga terakhir karena selalu bermain dengan hasil imbang, setidaknya menjadi salah satu bukti kuat jika Arsenal tengah alami masalah serius di sektor depan. Hal ii sendiri terbukti dengan kesulitannya Arsenal dalam menetak gol ke gawang lawan dan situasi ini juga berdampak pada hasil minus.

Keadaan tersbut sendiri didasari dengan absennya Aubameyang digaris depan, dimana hal ini membuat Arsenal harus melakukan opsi dengan memasukkan Martinelli di garis depan. Meski berbuah manis karena Martinelli sempat memberikan kontribusi, namun hal tersbut daras belum cukup untuk membangkitkan performa.

Arsenal yang menjadi finalis di ajang Liga Europa musim lalu, kini benar – benar mendapatkan ancaman serius jika tidak sanggup memperbaiki performanya. Pasalnya jika ampai mengalami kesulitan memetik kemenangan, bisa dipastikan Arsenal akan kesulitan untuk bisa menempati zona kompetisi Eropa.

Meskipun demikian, Arsenal masih bisa dikatakan berada ada performa yang tidak buruk untuk saat ini, mengingat dari 5 laga terakhirnya belum terkalahkan. Jika hal ini terus dijaga dan mampu menunjukkan permainan yang lebih agresif, tidak menutup kemungkinan jika Arsenal bisa atasi problematiknya dengan cepat.

Peluang Yang Bisa didapat Arsenal Saat Hadapi Burnley

Di pekan ini Arsenal harus menunjukkan sebuah bukti perubahannya dengan sangat baik, pasalnya Arsenal sendiri harus menjalani laga tandangnya dengan menghadapi Burnley. Tentunya dengan lawan yang tidak terlalu berbahaya, Arsenal secara di atas kertas bisa menunjukkan penampilan yang lebih baik.

Meski begitu, tantangan terbesarnya adalah dengan faktor non teknis, dimana Burnley pastinya akan bermain all out karena tidak ingin kehilangan poin di kandangnya sendiri. Keadaan inilah yang bisa membuat atmosfer di andang Burnley akan menyulitkan para punggawa Arsenal dalam mengembangkan permainnya dan bahkan bisa mendesak Arsenal bertahan.

Terlepas dari itu semua, kubu Arsenal memiliki bekal yang ternyata sangat baik untuk laga nanti, hal ini dikarenakan Arsenal bisa memainkan pemain depannya kembali yang sebelumnya terkena larangan bermain. Dengan hadirnya Aubameyang kembali, tentu sisi ketajaman akan bertambah kuat dan Arsenal tentu bisa mengupayakan hasil yang lebih baik dari pada laga sebelumnya.

Industri Manufaktur Menghasilkan Rp 225.400 Triliun

Industri manufaktur di Indonesia memberikan kontribusi hampir seperempat bagian dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Atas pencapaian ini, maka Indonesia termasuk dalam 10 besar negara industri manufaktur di dunia.

Tentunya industri mobil Indonesia memiliki kontribusi besar. Hal ini tampak dari pencapaian ekspor mobil yang terus meningkat. Pemerintah telah menetapkan industri mobil sebagai salah satu sektor industri prioritas. Mengutip data dari Kementerian Perindustrian, dari pertama kali berdiri pabrik mobil hingga tahun 2015 pendapatan negara dari industri mobil mencapai Rp 225.400 triliun.

Artinya, industri otomotif menjadi lumbung devisa negara. Jika dianalogikan, angka segitu maka Indonesia bisa membeli 169.117 pesawat Airbus A320, dengan asumsi harga satu pesawat A320 dibanderol Rp 1,33 Triliun. Wow gak tuh.

Purwakarta satu titik persimpang di jalur “Greater Jakarta”

Kabupaten Purwakarta merupakan satu titik persimpang di jalur “Greater Jakarta”. Perjalanan dari dan menuju Jakarta-Bandung-Cirebon akan bersinggungan dengan wilayah yang luasnya 971,72 kilometer persegi itu.

Kabupaten yang tanahnya subur ini juga merupakan salah satu penopang industrialisasi otomotif di Indonesia. Hal itu diungkapkan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Purwakarta, Drs H. Fadil Karsoma M.Si Ditemui di pendopo Purwakarta, pria ramah itu juga menjelaskan lagi bahwa potensi wisata alam juga tidak terabaikan. “Purwakarta memiliki banyak sekali tujuan wisata otomotif yang dapat dikembangkan.

Misalnya wisata cross country di rute Tegalwaru, hingga trail adventure di daerah Wanayasa hingga Darangdan,” jelasnya. Lokasi yang terakhir disebutkan Fadil sebagai lokasi teranyar yang sedang dikembangkan pihaknya. Dituntaskannya, lokasi Purwakarta yang strategis bisa jadi nilai unggulan untuk meningkatkan popularitas obyek-obyek wisata yang ada. “Apalagi Purwakarta juga sebenarnya sudah sering jadi tempat berbagai macam perhelatan otomotif,” tegasnya.