Merajut Masa Depan dengan Sertifikasi

Merajut Masa Depan dengan Sertifikasi

Menurut Direktur Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) Indonesia, Tiur Rumondang br Mangunsong, industri sawit selama 10 tahun terakhir menjadi primadona nasional. Produktivitas sawit terhitung lebih besar dibandingkan kedelai, bunga matahari, dan rapeseed. Kelapa sawit bisa menghasilkan minyak sebanyak 3,8 ton/hektar (ha), jauh lebih tinggi dibanding kan minyak nabati lainnya se perti rapeseed yang hanya memproduksi minyak 0,59 ton/ha. Secara ekonomi sawit memang menjanjikan, kata Tiur, tetapi dari sisi sosial dan lingkungan juga perlu diperhatikan. “Dalam hal ini RSPO mencari keseimbangan di dalam industri mi nyak sawit yang memiliki kepa tuhan terhadap hukum, layak secara ekonomi, tepat untuk lingkungan, serta bermanfaat untuk sosial,” terangnya pada acara pengenalan minyak sawit berkelanjutan di Saro langun, Jambi, beberapa waktu lalu.  Lebih lanjut alumnus S1 Ekonomi STEKPI, Jakarta, itu menjelaskan, perlu respon yang efektif untuk menekan dampak negatif akibat meningkatnya permintaan terhadap minyak sawit. Menurutnya, minyak sawit berkelanjutan bersertifikasi (certified sustainable palm oil-CSPO) adalah bagian dari solusi. “RSPO adalah lembaga yang hadir untuk menekan dampak negatif dari pertumbuhan minyak sawit terhadap masyarakat dan lingkungan,” sambung Tiur.

Percaya Diri dengan Sertifikasi

Banyak perusahaan sudah mengantongi sertifikat RSPO. Tak hanya perusahaan, kini petani sawit swadaya dan plasma pun mulai memikirkan keberlanjutan produksi sawitnya ke depan. Dengan adanya sertifikasi, kekhawatir an terhadap produksi dan kualitas sawit mereka berkurang. Ketua Gabung an Kelompok Tani (Gapoktan) Tanjung Sehati, Jalal Sayuti mengungkap, setelah mendapatkan sertifikasi dari RSPO pada 2014, pihaknya banyak memperoleh manfaat. Di antaranya, keterbukaan informasi dari pemerintah dan swasta, mendapatkan pengetahuan baru tentang sawit berkelanjutan, beroleh akses pasar lebih luas, serta mampu membeli aset tanah dan kebun. Gapoktan Tanjung Sehati terletak di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Tabir Selatan, Kabupaten Merangin, Jambi. Saat ini mereka memiliki kebun seluas 317,57 ha yang telah mendapatkan sertifikasi RSPO. Terdiri dari enam kelompok tani, gapoktan ini beranggotakan 214 orang dengan produksi Tandan Buah Segar (TBS) rata-rata 5.500 ton/tahun.

Sertifikasi berdampak positif bagi para anggota gapoktan, baik secara ekonomi, hubungan sosial, maupun lingkungan. “Penjualan dulu lewat teng kulak, sekarang melalui kelompok dengan harga yang lebih baik karena petani tahu harga TBS,” papar Sayuti. Mereka juga mampu berswadaya memperbaiki akses jalan menuju ke per kebunan dengan patungan Rp20/kg TBS dari hasil panen. Dari segi sosial, para petani yang dulu jarang berkumpul bahkan saling curiga, kini tak enggan lagi bersama-sama memecahkan masa lah sehingga ikatan sosial menguat. Mereka memperhatikan lingkungan dengan mematuhi perda perlindungan sungai, tak lagi membakar lahan, menggunakan pupuk organik serta membuang limbah K3 pada tempatnya. Sertifikasi RSPO, lanjut dia, adalah buah dari upaya pengembangan dan pemberdayaan kelapa sawit yang mereka mulai sejak 2006. Sertifikasi tercapai berkat dukungan pemda setempat, Dinas Perkebunan Kabupaten Merangin dan Provinsi Jambi, Yayasan Setara, dan RSPO.