S udah lima tahun Mae Azhar menjadi petani tebu. Ini memang cita-citanya sejak lama: petani tebu bergelar sarjana. Terlebih, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat merupakan penghasil gula tebu sejak zaman Belanda. Ia tidak ingin keberadaan petani dan pabrik tebu di tanah kelahirannya itu hanya menjadi cerita sejarah.

Menurut Azhar, sapaannya, sejak awal bertanam tebu ia belum pernah merasakan kerugian. “Tebu itu jarang ruginya. Paling kembalinya pas modal untuk biaya sewa. Enaknya tebu di situ,” ujar sarjana teknik mesin Universitas 17 Agustus 1945 Cirebon yang membudidayakan tebu seluas 12 ha dengan produktivitas 8 ton/ha ini.

Prospek Cerah

Azhar memantapkan diri terjun dalam budidaya tebu selepas lulus kuliah pada 2011. Ia memulai budidaya tanaman penghasil gula itu secara otodidak di lahan seluas 3 ha. Lahannya diperoleh de ngan cara menyewa tanah milik pemerintah desa. “Dapat panennya lumayan, pas lagi harganya bagus. Produktivitasnya 8 ton gula/ha karena kebetulan dapat tanahnya bagus, saluran peng airannya ada. Jadi ketika musim kemarau masih bisa diairi,” papar pria kelahiran 5 Mei 1983 ini seraya mengatakan budidaya tebu mudah dilakukan.

Tahun lalu Azhar menanam tebu sebanyak 7 ha. Sekarang ayah dua anak ini menambah luasan tanam menjadi 12 ha. Produktivitasnya bertahan di angka 8 ton/ha. Pada musim panen Juni lalu harga tebu mencapai lebih dari Rp13 ribu/kg saat lelang pertama. Harga ini turun pada hari terakhir lelang menjadi Rp10.850/kg. “Tebang awal kemarin waktu bulan puasa, keuntungannya mencapai Rp10 juta/ha. Itu karena harga gula masih tinggi,” tandasnya semringah.

Pria yang aktif berorganisasi ini menjelaskan, agar mencapai skala ekonomi, setidaknya petani harus mengelola 10 ha lahan. Dengan keuntungan bersih sebesar Rp3 juta/ha, petani akan mengantongi Rp30 juta/musim. “Dibagi 12 bulan ‘kan lumayan untuk biaya hidup sehari-hari,” sambungnya sambil menuturkan biaya produksi tebu sekitar Rp13 juta/ha di luar ongkos tebang-angkut.

Namun, tidak selalu budidaya tebu menyenangkan petani. Sebab, impor gula kerap datang berbarengan panen raya tebu. “Tiga tahun ini petani mengalami kerugian. Dan saya salah satu petani yang terus bertahan untuk menanam tebu dalam kondisi seperti ini. Saya khawatir empat tahun ke depan, tanaman tebu di Cirebon punah. Di samping pabriknya sudah tua, tidak efektif dan efisien, petani banyak menanam komoditas lain,” ulas suami Inggid Giniar Lestari ini prihatin.

Meski begitu, Azhar berkeyakinan kuat bahwa sektor per tanian, khususnya tebu memiliki prospek cerah. “Dalam agama Islam saja zakat paling besar itu zakat dari sektor pertanian. Kalau agama saja sudah mengatur petani harus mengeluarkan zakat tinggi dibanding usaha lain, artinya ini ada prospek yang bagus. Ketika berani mengeluarkan zakat yang tinggi, berarti diri sendirinya sudah aman, hasilnya lebih tinggi lagi,” terangnya optimis.

Ayah Muhamad Nabil Iskandar Azhar dan Aqila Tasya Azhar ini membuktikannya. Selama lima tahun mengelola tebu, ia bisa membangun sebuah rumah di Desa Asem, Kecamatan Sindanglaut, Kabupaten Cirebon di samping untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ia juga telah menyewa 25 ha lahan untuk ditanami tebu pada musim tanam Juni 2017. “Tahun depan alhamdulillah ada rezeki, saya nanam di angka 25 ha. Alhamdulillah,” ungkapnya penuh syukur. W