Meneropong Harga Komoditas Perkebunan

Menurut Dr. Sinung Hendrat no, Kepala Operasional Ri set, PT Riset Perkebunan Nu santara (RPN), harga komoditas per kebunan ditentukan oleh faktor fundamental, yaitu kondisi penawaran serta permintaan pasar dunia, dan faktor teknis lainnya. Pada dasarnya, terjadi peningkatan produksi dan konsumsi.

Hanya saja dalam pembentuk an harga sering kali terjadi ketidakseimbangan permintaan dan suplai barang. Pergerakan harga komoditas dalam jangka pendek dipengaruhi kebijakan tiap negara produsen atau konsumen dan kondisi ekonomi makro. “Dari sisi permintaan, faktor fundamental menyumbang permintaan yang besar.

Tiong kok, Jepang, India, Amerika, dan Uni Eropa adalah konsumen komoditas perkebunan terbesar dunia bebera pa tahun terakhir. Artinya, negara-ne gara besar ini menentukan harga yang berkembang,” jelas Sinung pada Se mi nar Nasional RPN di Bali beberapa waktu lalu. Doktor ekonomi pertanian dari IPB itu menjelaskan beberapa variabel pen ting yang mempengaruhi permin taan.

Yaitu, pertumbuhan ekonomi dan kebijakan, harga dan inflasi, ke sempatan kerja, purchasing index (indeks daya beli), pertumbuhan jumlah konsumen, serta harga minyak bumi. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun ini naik tipis sehingga diharapkan akan me narik permintaan dunia dan mening katkan harga. Namun ekonomi Tiongkok justru melemah. Ia m e w a n t iw a n t i , “Per lu perhatian untuk komoditas yang pasar utama nya Tiong kok, se perti karet atau CPO (minyak sawit).”

Pada 2016 inflasi dunia ditaksir mening kat. Akibatnya, akan menahan laju permintaan. Inflasi di Tiongkok, Amerika, dan India yang juga naik perlu menjadi catatan karena bisa menekan permintaan komoditas perkebunan dunia. Sinung memaparkan, Bank Dunia memprediksi terjadi penurunan angka pengangguran pada 2016 di Amerika, Eropa, Jepang, Tiongkok, dan India.

Dam paknya, industri akan tumbuh dan berkembang, tenaga kerja bertam bah, pendapatan masyarakat dunia juga meningkat. “Sehingga diharapkan bisa meningkatkan permintaan dunia dan harga,” imbuhnya. Purchasing manager index yang tumbuh menandakan naiknya permintaan dunia. Akan tetapi harga minyak mentah yang masih rendah, berkisar US$30-US$40/barel, turut mempengaruhi permintaan karet dan sawit.

Harga Komoditas Menilik sisi penawaran, beberapa variabel yang berpengaruh misalnya kebijakan produksi dan investasi komoditas perkebunan, harga dan inflasi, serta kerja sama dan kebijakan perdagangan negara produksi. Negara produsen yang umumnya negara berkembang, menurut pandang an Sinung, mengeluarkan kebijakan produksi yang dipengaruhi faktor teknis melalui intensifikasi dan ekstensifikasi. Pengembangan industri di