Menjadi seorang pedagang, tidak melulu keuntungan yang selalu dikejar. “Kalau Anda mau petik buah, sekali waktu beri pupuk tanaman itu. Jangan untuk memetik terus tanpa memberi pupuk. Berbagilah,” ujar Anddy Anto, pemilik UD Sumber Lancar (SL), penyuplai peralatan tambak, seperti kincir air, dan obatobatan di Surabaya, Jatim memaknai usaha yang dirintis.

Kincir air besutan SL sangat akrab di telinga pembudidaya atau petambak udang skala besar hingga kecil. Selain kuat, Anddy juga menyediakan kincir dengan harga sangat terjangkau bagi petambak kecil. Mengapa demikian? Membantu Petambak Bagi Anddy, petambak telah memberinya kehidup an. “Saya bisa bayar pegawai, menyekolah anak saya karena teman-teman petambak yang kecil-kecil itu,” ungkapnya saat ditemui AGRINA beberapa waktu yang lalu.

Pria asli Surabaya ini sadar, ia dan petambak sama-sama saling membutuhkan. “Petambak membutuhkan produk kami. Kami juga membutuhkan mereka. Mudah-mudahan kami masih dipercaya oleh petambak,” sambungnya bijak. Anddy mengibaratkan pelanggan sebagai tanam an yang perlu dirawat dengan memberikan pu puk. “Kalau Anda punya pohon jambu, setiap ha ri dipetik nggak diberi pupuk, tambah lama tam bah kecil jambunya.

Jambu akan mengha silkan buah terus-menerus kalau saya memberikan kelayakan hidup kepadanya. Jambu, jagung, atau apapun yang penting saling (berbagi),” ulasnya. Untuk membantu petambak skala kecil, pria kelahiran November 1970 ini secara khusus mera kit kincir air berharga murah tanpa meng abaikan kualitas. “Biaya variabel dan fixed cost (biaya tetap) kita hilangkan. Kita cuma mengambil keuntungan sedikit. Kita sesekali bekerja untuk petambak. Profit ditekan jadi bisa dijual lebih murah. Kami peduli ekonomi kerakyatan,” jelasnya. Anddy mencoba berpikir sebagai petambak. “Dengan harga yang pantas mendapat kualitas premium. Kalau kita bisa hemat dari kincir, udang kita bisa murah,” terang lelaki yang pernah juga memiliki tambak udang di Pangandaran, Jabar itu. Saling Menghargai Kuncinya, ungkap Anddy, pada kata ‘saling’, saling menghargai.

“Kalau kita saling menghargai, sa ling memikirkan, produk dan pelayanan itu meng ikuti. Saling memikirkan, kalau saya jadi petambak, saya butuh biaya operasional, butuh hidup, butuh untung. Bapak butuh produk. Saya juga butuh hidup yang tidak menyusahkan. Semuanya saling. Dalam satu pertemuan, kalau tidak kata saling, tidak akan ada titik temu,” imbuhnya. Menurut ayah tiga anak ini, jika ada pembeli yang bersikap seperti raja hanya menguntungkan satu pihak. Kondisi itu seperti hidup bersama dalam lingkungan serigala atau macan.

“Buat apa kita hidup di kandang macan atau di kandang serigala. Begitu dia lapar, kita dimakan,” katanya. Menurut dia, posisi penjual dan pembeli itu sejajar. “Kalau Anda koboi, saya layani dengan koboi. Kalau Anda orang Solo, saya layani halus. Walaupun saya seorang Chinese tapi saya bisa menyelami dengan bahasa itu,” tandas suami Susan Ivandiani. Anddy mengibaratkan hubungan tersebut seperti alam semesta yang mengikuti irama gerak manusia. “Kalau kita tidak membuang sampah sembarangan, sungai akan lancar.

Kalau kita mene bang pohon, semesta akan memberikan hukuman berupa banjir dan tanah longsor. Kalau kita menanam pohon dan tidak membuang sampah sembarang, semesta akan memberi kedamaian pada kita. Itu sebab-akibat yang diciptakan alam ini. Jadi kuncinya ‘saling’,” paparnya seraya menegaskan. Rezeki dari Tuhan Sikap tegas tidak membuat Anddy takut ditinggalkan pelanggan karena tersinggung ucapannya.

“Kamu nggak beli ya sudah, bukan rezeki saya. Saya nggak takut. Rezeki nggak ke mana. Tuhan yang ngatur,” katanya. Pria yang mengawali karir sebagai salesman ini menambahkan, “Kalau kita tanam mangga, tumbuhnya mangga. Tanam jagung, hasilnya jagung. Cuma persoalannya, jagung besar atau jagung kecil.”