Melirik Kiprah Benih Domestik

Dengan adanya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura Pasal 100 yang mengatur bahwa penanaman modal asing (PMA) dibatasi maksimal hanya 30%, padahal sebelumnya boleh mencapai 100%. PMA diberi batas waktu pelepasan modal sampai 2014, termasuk perbenihan hortikultura, budidaya hortikultura, dan industri pengolah an hortikultura.

Pemberlakuan UU tersebut membuat tiga perusahaan multinasional, yaitu Seminis, Monsanto, dan Syngenta, melepas bisnis benih hortikulturanya, Hal ini sempat memicu kekhawatiran tentang ketersediaan benih unggul bermutu yang sudah menjadi andalan petani di Indonesia. Bisa Berkembang Sri Wijayanti Yusuf, Direktur Per benihan Hortikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, saat acara “Evaluasi Industri Benih” di Surabaya, menegaskan agar jangan khawatir dengan adanya UU tersebut.

Pasalnya, Yanti, begitu ia disa pa, melihat pelaku usaha benih hortikultura di dalam negeri (PMDN) mampu berkembang dengan sangat po sitif. Ia mencontohkan PT Agri Pertiwi Makmur yang berbasis di Surabaya. Jadi, ia memandang, “UU Hortikultura memberikan iklim kondusif bagi pertumbuhan industri benih hortikultura dalam negeri.

” Ditambahkan lagi, pertumbuhan varietas unggul hasil rakitan PMDN lebih banyak ketimbang PMA. Sebelum adanya UU tersebut (periode 1984- September 2011) pelepasan varietas oleh PMDN sebanyak 379 jenis atau rata-rata pertahun 14 varietas. Sedangkan PMA hanya 287 varietas atau 10 varietas per tahun dan cenderung menurun setelah terbitnya UU ter sebut atau periode Oktober 20112016, jumlah pendaftaran varietas oleh PMDN sebanyak 387 atau 77 varietas pertahun.

Sementara pendaftaran oleh PMA hanya 138 atau 27 varietas pertahun. Yanti optimistis, Indonesia bisa mandiri benih, khususnya benih biji. Terli hat dengan makin banyaknya produk benih biji yang diekspor, sedangkan im por cenderung menurun. Me mang, ada beberapa jenis biji yang ma sih im por. Mi sal nya, pada 2015 jumlah benih yang ba nyak diimpor adalah sa wi hijau/caisim se kitar 41.221 kg, wortel 5.975 kg, tomat 1.286 kg dan terong 6.360 kg. Juga cabai impor sebanyak 256 kg.

Tapi Indonesia juga bisa meng ekspor sebanyak 3.875 kg. “Ini menjadi tantangan kita bersama, to mat, wortel harus menjadi perhatian ki ta karena masih banyak impor. Padahal kita bisa memproduksi sendiri,” tambahnya. Kualitas Tidak Kalah Dalam acara evaluasi, Yanti sempat menanyakan tentang kualitas benih dalam negeri kepada para pelaku usaha. Menjawab tantangan tersebut, Direktur Utama Multi Global Agrindo, Mul yono, menyatakan, “Kualitas kita tidak kalah dengan benih PMA.” Buktinya, Multi Global Agrindo saat ini sudah ekspor benih melon, pare yang berwarna hijau gelap klorofilnya le bih banyak, labu, bayam Lorenzo negara tujuan Jepang.

Juga bligo yang bagus untuk pencernaan, yaitu terong. “Tomat tahun ini kami sudah melaku kan penanaman dengan tujuan Korea terutama cherry (merah, kuning dan coklat). Mungkin belum banyak ku an titasnya, tapi jika tahu tujuan ekspornya ke Je pang dan Korea pasti semua tahu ba gaimana ketatnya quality control kedua negara tersebut,” papar Mulyono bangga. Sementara itu, Direktur Utama Agri Makmur Per tiwi, Junaedi Sung kono, menyatakan, “Kita ha rus makin mendo rong pertumbuhan industri dalam negeri.

Tapi untuk meningkatkan perkembangan industri benih di dalam negeri harus ada dukungan politik dari pemerintah. Saya simpulkan kita bisa buat produk benih nasio nal, ba nyak pelaku usaha benih kecil yang mulai berkembang, tapi perlu mendapat bimbingan dari pemerintah agar makin besar.

” Direktur Utama PT Benih Citra Asia, Slamet Sulistiyo, cukup yakin, benih dalam negeri sudah mulai mampu menyaingi PMA. Contohnya mentimun khususnya di Jawa Barat, dulu pa sarnya dikuasai PMA tapi kini benih keluaran perusahaannya sudah unjuk gigi dengan mentimun bisa tiap hari pa nen dan tahan virus kuning.