“Masalah pokok pergulaan nasional adalah ketidakmampuan pertumbuhan produksi dalam ne geri untuk mengejar pertumbuhan permintaan. Pertumbuhan permintaan dalam negeri meningkat karena dua hal utama, yakni pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan konsumsi per kapita karena pertumbuhan ekonomi,” ungkap Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec., Menteri Pertanian periode 2000 – 2004, saat diwawancara AGRINA. Apa yang dapat dilakukan? Dalam keadaan seperti itu, agar harga gula dalam negeri tidak melonjak tinggi maka importasi tidak dapat dielakkan.

Dengan demikian pertumbuhan impor gula dari tahun ke tahun terus meningkat. Untung saja importasi tersebut dalam bentuk raw sugar (gula mentah) jadi masih perlu proses sehingga memberi nilai tambah di dalam negeri. Adanya importasi raw sugar dan gula rafinasi memang berhasil meredam harga gula dalam negeri karena kebetulan harga gula internasional beberapa dekade belakangan ini sering lebih rendah daripada harga dalam negeri. Ini sangat menolong industri makanan dan konsumen akhir kendati berpengaruh negatif terhadap penyediaan insentif bagi produksi gula dalam negeri. Pertumbuhan produksi gula di dalam negeri tidak secepat yang diharapkan sehingga ini menjadi satu sebab mundurnya secara terus menerus target pencapaian swasembada gula nasional. Target tahun pencapaian swasembada gula selalu berpindah dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya. Wajar apabila ada yang menduga pemerintah tidak serius mengupayakannya dan menjadi sesuatu yang membosankan bagi stakeholder gula nasional. Kapan kita akan mencapai swasembada gula? Bercermin dari pengalaman selama era reformasi ini sangat sulit membayangkan suatu ketika dicapai swasembada gula nasional.

Alasannya, tidak ada perubahan dalam kebijakan-kebijakan gula nasional dan perubahan perilaku para stakeholder di bidang agribisnis gula, mulai dari hulu hingga hilir seperti penyedia bibit dan sarana, para petani, pabrikan, dan pedagang. Terus terang dalam dekade terakhir ini tidak kelihatan perbaikan yang signifikan dalam peningkatan produksi tebu per hektar dan rendemen gula. Sementara kedua variabel ini merupakan variabel pokok untuk daya saing produksi gula di dalam negeri. Apa yang dapat dilakukan untuk mencapai swasembada gula? Pemerintah harus mengusahakan koordinasi kebijakan antarsektor dan tingkatan pemerintahan dari pusat hingga daerah yang memiliki keberpihakan untuk meningkatkan produksi dan daya saing industri gula nasional dalam jangka panjang. Jangan seperti sekarang justru sering terjadi kebijakan perdagangan menjadi disinsentif terhadap usaha-usaha peningkatan produksi dan kualitas gula di dalam negeri. Dan tak kalah pentingnya, pelaku industri gula harus memiliki tekad bersama untuk meningkatkan sinergi antarsubsistem dan mengaplikasikan teknologi yang lebih modern. Dengan demikian produksi, kualitas, dan daya saing secara terus menerus meningkat.

Di bidang on-farm dibutuhkan revolusi kelembagaan petani dan pabrik gula agar bisa lebih bersinergi satu sama lain. Kita membutuhkan organisasi petani yang menggabungkan usaha tani skala kecil menjadi suatu organisasi yang mempunyai skala usaha ekonomis dalam bidang budidaya tanaman. Dan organisasi petani ini dapat bekerjasama dengan manajemen dan organisasi pabrik gula. Pemerintah sebaiknya mengusahakan sinergi antara on-farm subsector dan off-farm subsector sehingga suatu ketika pabrik gula dan usaha tani tebu rakyat menjadi suatu sistem yang terintegrasi dan bersinergi secara efisien dan efektif. Barangkali juga sudah masanya untuk mengembangkan sumber pemanis alternatif selain gula tebu, misalnya stevia, kelapa, atau aren. Hal itu disebabkan pengembangan areal tanam dan pembangunan pabrik gula baru berbasis tebu tampaknya makin lama makin terbatas.