Manfaatkan Drone untuk Pertanian

Manfaatkan Drone untuk Pertanian

Penggunaan drone (mesin terbang tanpa awak) akhir-akhir ini mulai tidak asing lagi. Namun di negara lain, drone sudah dipakai untuk memakmurkan sektor pertanian. “Indonesia harus berusaha agar tidak tertinggal karena merupakan negara agraris,” ungkap Direktur Pusat Robotika dan Mesin Cerdas Surya University, Riza Muhida, pada saat perkenalan peluncuran drone untuk petani, di Subang, Jabar (20/7) Pria lulusan strata-3 Universitas Osaka, Jepang ini berujar, dengan adanya drone, petani bisa dimudahkan dari berbagai sisi. “Drone bisa untuk menyebar pestisida ataupun pupuk, ketergantungan ketenagakerjaan bisa diminimalsir. Sehingga efektif dari biaya, tenaga kerja dan waktu. Kalau misal ada kelompok tani yang bisa menggunakan kan bisa bergantian,” ulasnya. Di negara lain, lanjut Riza, drone sudah dipakai karena siklus pertanian bisa dibantu secara lengkap. Sebelum proses menanam padi, drone bisa digunakan untuk pemetaan titik-titiknya terlebih dahulu. Saat pemeliharaan tanaman, drone bisa sebagai penyebar pupuk dan menyemprotkan pestisida. Kemudian setelah besar bisa ditambahkan camera image thermal untuk mendeteksi mana yang sakit atau tidak, dan saat proses akhir drone mengamati bagaimana proses pengambilan hasil. “Banyak hal positif terkait tidak hanya sebagai penyemprot pestisida, serba efektif,” tutup ayah dua anak ini.

Dalam empat tahun terakhir, intensitas komunikasi petani dalam media sosial sangat tinggi. “Digital empat tahun lalu masih sangat minim di Indonesia. Kalau sekarang kita lihat sudah banyak petani masuk komunitas facebook,” ungkap Bea Siti Nabilla R., Marketing Manager, Indonesia Crop Nutrition, BU Asia PT Yara Indonesia. Selain itu, pelaku industri pertanian juga sudah banyak yang memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produknya dan berinteraksi dengan petani. “Kalau dulu digital itu lebih banyak di urban, sekarang sudah merambah ke petani,” imbuh penggemar musik ini sambil tersenyum. Menurut Bea, dengan masuknya infrastruktur komunikasi internet, petani semakin aktif mencari informasi tentang pertanian melalui internet. Petani pun kini merasakan zero moment of truth, yaitu akses ke media digital untuk mencari informasi sebagai salah satu proses melakukan pilihan pembelian suatu barang atau jasa. “Itu semakin gede. Kalau dulu (petani) nggak ada zero moment of truth, sekarang ada zero moment of truth,” ulas perempuan kelahiran 13 Juni 1985 itu. Pemahaman petani terhadap produk pertanian semakin meningkat dan tantangan budidaya juga semakin tinggi. Karena itu, Bea menyarankan pelaku industri agribisnis agar melakukan komunikasi yang tepat pada petani, salah satunya melalui media sosial.