Insentif dan Pembiayaan Pola Syariah

Tentu saja kemajuan sektor agribisnis sangat ditunjang oleh peran pembiayaan. “Ini menjadi salah satu solusi yang bersifat fundamental,” katanya. Akan tetapi, kita perlu mengetahui apa saja yang menjadi persoalan dan peluang pembiayaan untuk mengoptimalkan potensi komoditas pertanian. Sektor pertanian, sambung dia, menghadapi persoalan yang sama, yaitu stagnasi produksi. Kini ditambah lagi dengan ketergantungan impor pangan dan gejolak harga pangan.

Dua tahun terakhir terjadi anomali berupa harga internasional komoditas pangan turun tapi harga di dalam negeri mengalami fluktuasi yang luar biasa. Sedangkan, daya beli masyarakat rendah dan disparitas harga di level konsumen dan produsen terus berlanjut. “Sekarang disparitas harga tidak hanya di level produsen dan konsumen. Tetapi, dis paritas harga internasional dan domestik,” katanya. Selain itu, para petani juga tidak memiliki posisi tawar (bargaining power) untuk menghadapi tengkulak. Padahal posisi tawar adalah salah satu insentif untuk bisa menjawab persoalan produksi pangan. Di lain pihak, perkembangan penyaluran kredit perbankan dalam beberapa tahun terakhir mengalami perlambatan. Biasanya industri perbankan tumbuh double digit.

Tetapi kini hanya sanggup bertengger di kisaran angka 6%. Bahkan, kredit sektor properti juga mengalami perlambatan yang sangat serius. “Artinya, tersedia idle fund (dana menganggur) yang belum tersalurkan. Sementara, ada sektor yang sangat strategis tetapi tidak bisa mengakses sumber pembiayaan itu. Ini harus dicari titik temu nya,” perempuan ke lahiran 27 Juli 1971 itu menambahkan. Per tanian memang sangat strategis. Akan tetapi, risikonya masih sangat tinggi, tidak ada stabilitas harga, dan juga tidak ada insentif ekonomi. Karena itu, Enny menyimpulkan, perbankan me nilai sektor pertanian tidak mengun tungkan. Mereka pun enggan ma suk ke dalamnya meski dipaksa. “Ketika ada insentif (posisi tawar), nggak ada barrier (penghalang) orang untuk masuk. Artinya, faktor akses untuk pembiayaan juga mempunyai peran penting,” urai dia. Jika tidak ada insentif, tidak akan ada garansi bahwa sektor pertanian memiliki daya tarik ekonomi. Sehingga, kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah tidak akan berkelanjutan.

Peluang Syariah

Ketika perbankan konvensional enggan membiayai sektor pertanian, Enny menilai seharusnya perbankan syariah bisa mengisi kekosongan tersebut. “Mestinya perbankan dengan pola syariah menangkap peluang ini,” ucapnya. Ekonom asal Karanganyar, Jateng itu menjabarkan, perbankan syariah bisa menjadi alternatif pilihan pembiayaan yang menutupi kelemahan-kelemahan di sektor pembiayaan konvensional. Termasuk, sektor-sektor yang tidak cocok dengan skema konvensional.

Namun, Enny miris dengan kinerja perbankan syariah yang saat ini masih menjadi follower (pengikut) perbankan konvensional. “Ini yang mestinya menjadi primadona bahkan di dalam skema pembiayaan syariah,” cetus dia. Apalagi berdasarkan data Otoritas Jasa Ke uangan, sektor pertanian memiliki persentase kre dit bermasalah (Non Performing Loan, NPL) sangat kecil, sebesar 2,05%. Nilai ini jauh di bawah sektor lainnya, seperti pertambangan 7,22% atau konstruksi 4,92%. “Kalau mampu memberdaya kan dan mengoptimalkan sektor pertanian, kita akan bisa membangun industri yang betul-betul punya fundamental kuat. Sektor yang akan menjadi primer mover(penggerak utama). Ada backward linkage (pertalian ke belakang) dan forward link age(pertalian ke depan)- nya,” tandasnya meyakinkan.