Tahun ini diperkirakan petani yang me nanam tebu di Lampung makin banyak. Sejak harga sawit dan karet jatuh, banyak pe tani yang membongkar kebunnya dan beralih me nanam tebu seiring dengan membaiknya harga gula. “Pada lelang terakhir harga jual kita sudah Rp12.650/kg. Kita adakan lelang sekali dua minggu,” ungkap Herry Susanto, General Manager Pabrik Gula Bunga Mayang (PG Buma), salah satu unit usaha dari PT Perkebunan Nusantara VII, kepada AGRINA.

Apalagi Menteri Pertanian Amran Sulaiman sudah berkomitmen akan menyediakan lahan untuk pengembangan tebu seluas 380 ribu hektar (ha). “Sudah ada 30 perusahaan yang siap operasi dan 15 sudah investasi untuk pabrik. Kan mereka sudah investasi kurang lebih Rp2 triliun – Rp4 triliun. Potensi ini harus kita optimalkan,” katanya pada konferensi pers usai rapat pembahasan kerjasama peningkatan produksi melalui perluasan areal bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Kementerian Agraria dan Tata Ruang

Varietas Unggul

Inovasi untuk produksi yang lebih baik dilakukan PG Buma. “Saat ini PG Buma melakukan pemurnian varietas tebu BM 95114, BM 1619, BM 1650, dan BM 1611 melalui kultur jaringan agar lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit,” ujar Herry saat berbincang di lokasi kebun bibit PG Buma, Kabupaten Lampung Utara, Lampung, baru-baru ini. Varietas unggul tersebut lebih genjah, umur pendek, pelepah daun lebih lebar, batang lebih tinggi, lebih berbobot meski diameter batang lebih kecil karena kadar seratnya lebih

tinggi berkisar 15%- 16%. Tak hanya itu, varietas baru ini lebih tahan terhadap kebakaran. Sedangkan varietas unggul yang cocok untuk menghadapi anomali cuaca (fenomena El Nino dan La Nina), menurut Sri Winarsih, peneliti utama Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) adalah benih dari varietas yang toleran keke ringan dan genangan seperti PSJT 941, BL, dan VMC 76-16. “Varietas tebu transgenik N XI-4T sudah dilepas Menteri Pertanian pada 2014. Tebu transgenik toleran kekeringan cocok dikembangkan pada lahan tadah hujan untuk pola tanam awal musim hujan,” ujarnya. Pada umumnya, sambung Sri, irigasi pada tebu dilakukan sebanyak tiga kali, tapi tebu transgenik cukup dua kali. Penanaman tebu ini jelas mengurangi kebutuhan air

untuk penyiraman sampai 30%. Rendemen tebu juga meningkat mencapai 9% dari rata-rata rendemen nasional 6%-8%. “Potensi hasil gula mencapai 7,7 ton/ha dibandingkan tanaman tebu konvensional hanya 6,0 ton/ha,” tutur ahli fisiologi tanaman alumnus Faperta IPB ini kepada AGRINA melalui surel. Pada 2014, luas areal tanaman tebu N XI-4T mencapai 54 ha dengan wilayah pengembangan di Magetan, Probolinggo-Kraksaan, dan BondowosoBanyuwangi. Pada 2015 ditargetkan penanaman mencapai 100200 ha. Luas total tebu di PTPN XI mencapai 60 ribu ha.

Inovasi Teknologi Pemupukan

P3GI mengungkapkan inovasi teknologi pemupukan terkini dan praktik terbaik lainnya untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi biaya pada perkebunan tebu. Sri Winarsih menjelaskan, kesuburan tanah pada perkebunan

tebu sangat ber pengaruh sehingga dibutuhkan pemupukan yang tepat. “Hara makro esensial untuk tebu adalah N, P, K, Ca, Mg, dan S, dan hara mikro esensialnya adalah Cu, Fe, Mn, Zn, B, Cl, dan Mo. Sedangkan hara nonesensial berupa Na, Co, Cl, dan Si. Pengelolaan unsur hara yang tidak berimbang menyebabkan penurunan kesuburan tanah,” tuturnya pada seminar “Teknologi Pemupukan dan Strategi untuk Mengatasi Anomali Iklim di Perkebunan” akhir Maret silam. Menurut Sri, teknologi pemupukan terkini pada tebu menggunakan pupuk nano, fertigasi, rekayasa khelat urea-humat, bahan pelembap tanah (soil conditioner), dan Integrated Plant Nutrient System (IPNS). Pupuk nano merupakan perakitan pupuk da lam ukuran nano sehingga luas permukaannya meningkat. Ini membuat reaktivitasnya juga bertambah. Fertigasi adalah penggabungan kegiatan pe mupukan dengan pengairan. Waktu dan dosis pemberian disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan umur tanah.

Teknik ini meningkatkan efisiensi sampai 30%. Kombinasi mikro irigasi dan fertigasi dapat mencapai efisiensi pemupukan sampai 90% sehingga meningkatkan daya hasil 60% dari budidaya konvensional. Bahan pelembap tanah, lanjut Sri, mampu mempertahankan retensi air dan hara pada kondisi kering. Bahan ini berasal dari asam akrilik, akrililamida, dan kalium yang merupakan polimer super absorb (1,3 mmol/L CaCO3).

Penggunaan soil conditioner memberikan peningkatan rendemen tebu sekitar 0,19%-2,06%. IPNS merupakan perpaduan pengguna an pupuk buatan, ba han organik, dan pu puk hayati. Takaran pu puk (N, P, dan K) yang terlalu tinggi me nimbul kan ketidakseimbangan unsur hara pada tanah.

Dampak ne gatif ini di ku rangi dengan menggunakan pu puk alam berupa bahan organik dan pupuk hayati.

Rehabilitasi Embung

Masih dalam upaya meningkatkan produksi, PG Buma juga melakukan rehabilitasi embung-embung dan membangun saluran irigasi guna menjamin ketersediaan air saat musim kemarau. Berdasarkan pengalaman tahun silam, saat musim kemarau panjang September 2015, air untuk penyemprotan tebu diambil dari embung-embung karena sudah memasuki musim kemarau.

Menurut Agus, saat ini terdapat 322 embung seluas 663 ha yang mampu menyimpan 13.700 m3 air yang bisa digunakan untuk menyiram tebu semasa kemarau tiba. Tanaman tebu harus mendapat pasokan air yang cukup sampai umur tiga bulan. Dengan adanya embung dan saluran irigasi tersebut, dampak kemarau panjang seperti tahun lalu terhadap pertumbuhan tebu dapat diminimalisasi. Bahkan produksi gula 2016 diprediksi lebih baik ketimbang 2015.

Apalagi musim penghujan tahun ini lebih panjang sangat membantu pertumbuhan tebu. Namun di sisi lain kondisi tersebut agak mengganggu proses penebangan dan pengangkutan tebu dari kebun ke pabrik. Akibatnya musim giling tebu terpaksa mundur dari awal Mei menjadi 21 Mei silam. Padahal musim giling tahun lalu dimulai pada 2 Mei.