I Gusti Agung Ngurah Kresna Kepakisan

I Gusti Agung Ngurah Kresna Kepakisan – D IArie Smit, I Gusti Agung Ngurah Kresna Kepakisan termasuk murid yang bukan berasal dari Desa antara puluhan murid Penestanan. Rumahnya berdekatan dengan pondok tempat Arie tinggal di Campuhan. Kesempatan untuk ikut belajar melukis datang secara tak sengaja. Suatu pagi Ngurah, yang saat itu berumur 10 tahun, digandeng ibunya ikut ke pasar. ”Saya sudah tak sekolah karena ayah telah meninggal dan saya anak kesembilan dari sepuluh bersaudara,” ujar pria yang kini 68 tahun ini. Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan Arie Smit, yang kemudian menanyakan kegiatan anak ini. Setelah dijawab oleh ibunya, Arie lalu meminta Ngurah ikut belajar melukis di tempatnya.

Kesempatan itu disambut gembira oleh Ngurah. Namun, setelah tiga bulan, dia sangat marah karena merasa tidak mendapat pelajaran apaapa. ”Kita seperti dibiarkan mencari sendiri cara melukis, hanya sesekali disapa sehingga tak mengerti lukisan kita bagus atau tidak,” katanya. Saat itu Arie mengajar rata-rata dua kali dalam seminggu dan selebihnya murid dibebaskan belajar sendiri. Namun Ngurah kemudian tetap melanjutkan belajar dengan tekad menemukan keasyikannya sendiri dalam melukis. ”Sekarang saya tahu, Arie saat itu memang memberi kesempatan untuk mengembangkan imajinasi karena setiap pelukis harus punya kreativitas sendiri,” ujar Ngurah. Dorongan itu membuatnya terus berinovasi dalam menciptakan lukisan sehingga dia menemukan cirinya sendiri. Salah satu yang khas, misalnya, gayanya yang menggunakan latar belakang warna merah layaknya matahari pagi untuk lukisan dengan gaya Penestanan.

Ngurah mengungkapkan warna itu ditemukannya suatu pagi pada 1970-an ketika dia bangun tidur di halaman rumah setelah malam sebelumnya dilarang masuk rumah oleh ibunya karena mabuk. ”Malam itu saya diundang merayakan Natal oleh teman dari Eropa dan diajak minum,” ucapnya. Kreasinya itu malah mendapat pengakuan dunia, misalnya dari UNICEF, yang pada 1996 menggunakan karyanya berjudul Men Cutting Grass sebagai salah satu Christmas Card. Ngurah juga meraih penghargaan World Wild Life Fund Vienna (Austria) pada 1983. Atas prestasinya, Pemerintah Provinsi Bali memberikan penghargaan Dharma Kusuma pada 2012. Penghargaan ini pada 1996 pernah diterima Arie Smit. Sampai saat ini Ngurah sebenarnya masih menjabat Ketua Young Artists Community setelah pada 1980 sempat dilakukan pendataan seniman dengan gaya seperti ini. ”Saat itu jumlahnya sekitar 40 orang,” ujarnya.

Sayangnya, organisasi ini sekarang cenderung kurang aktif karena kesibukan personelnya. ”Memang yang bisa bertahan hanya yang tetap kreatif dalam melukis dan mengembangkan gayanya,” ujar Ngurah, yang kini banyak mengembangkan gaya pointilisme naturalis.