Dari Forum Pangan dan Pertanian untuk Dunia

Responsible Business Forum on Food and Agriculture 2016 (RBF) yang dihelat 25-26 April di Jakarta membicarakan sejumlah komoditas utama, yaitu kopi, jagung, susu, minyak kelapa sawit, beras, dan gula. Hal ini untuk mengantisipasi bakal membengkaknya kebutuhan pangan bagi manusia sejagat pada 2050 yang akan mencapai 9,7 miliar jiwa.

Peningkatan permintaan pangan itu juga berarti peluang bisnis yang besar bagi pelaku usaha agribisnis dari hulu sampai hilir. Tak heran bila RBF dihadiri petinggi-petinggi perusahaan nasional dan multinasional. Sebut saja Monsanto, Syngenta, Bayer, dan Yara da ri penyedia benih, pestisida, dan pupuk yang terkemuka di dunia. Dari pelaku usaha sawit dan kakao hadir Golden Agri Resources, Cargill, Mondelez International. Sementara industri persusuan diwakili Nestle dan Frisian Flag.

Mereka berlomba mengemukakan ide dan teknologi untuk menjamin keberlanjutan produksi pangan dengan cara masing-masing. Dan pada 11 Mei 2016, kumpulan pemikiran mereka dijalin menjadi suatu rekomendasi bagi para pengambil keputusan. Rekomendasi Kelompok pelaku usaha beras merekomendasi agar negara-negara ASEAN+3 menetapkan kebijakan, program, dan bantuan untuk menstabilkan harga beras yang sering kali tidak stabil.

Perlu juga mengatur dampak berkurangnya sumber daya alam dan perubahan iklim. Kemudian litbang pemerintah ditingkatkan untuk menemukan varietas padi dengan hasil yang tinggi, tahan cuaca, harga terjangkau, dan mempraktikan inovasi pertanian yang berkelanjutan. Asuransi pertanian perlu segera dijalankan untuk melin dungi hasil pertanian petani kecil.

Negara ASEAN+3 juga harus mengurangi pembatasan perdagangan dan ber bagi data mengenai produksi dan pasar perberasan. Rekomendasi dari kelompok pelaku jagung berupa kemitraan pemerintah, swasta, dan masyarakat (public private partnership-P3) untuk mengembangkan benih jagung unggul dengan hasil tinggi dan tahan terhadap cuaca.

Di samping itu penting pula meningkatkan ketrampilan para petani melalui pendampingan yang intensif. Pada persusuan, forum mekomendasikan agar kerjasama pemerintah dan swasta harus mendorong investasi pada dukungan teknis dan peningkatan profesionalitas peternak melalui pendidikan, pemanfaatan teknologi, dan pem berian harga yang layak.

Model keuangan yang baru juga dibu tuhkan agar peternak mampu mengakses permodalan untuk intensifikasi produksi susu sapi perah. Pemerintah harus mengurangi risiko perbankannya. Selain itu juga peningkatan ketersediaan pakan yang konsisten melalui pemetaan regional tentang ketersediaan pakan yang potensial.

Bagi komoditas sawit, pemerintah ha rus menjaga penegakan hukum, membantu asosiasi petani lokal untuk berbagi informasi mengenai isu legal, praktik pertanian yang baik, juga pelayanan kepada akses keuangan juga harus dipermudah. Pemerintah dan swas ta juga harus transparan pada pemantauan kebakaran dan deforestasi. Pada komoditas gula, forum merekomendasikan hal yang tidak jauh berbeda dari komoditas lain, seperti dukungan teknis kepada petani dengan mengembangkan inovasi untuk menghadapi perubahan iklim.

Penguatan asosiasi petani lokal untuk mening kat kan kolaborasi dan berbagi pengeta huan. Menjalin hubungan yang baik an tara petani dengan pabrik gula agar lebih efisien dalam memproduksi gula. Semua rekomendasi tersebut pada akhirnya harus dijalankan dengan aksi nyata. Kesepakatan tidak akan mencapai tujuannya bila tidak dilakukan dengan aksi nyata.