Angin segar terus menghembus industri perudangan nasional. Saat negara-negara produsen udang dunia masih berjibaku memulihkan produksi dan ekspor udang yang masih tertekan penyakit, produksi dan ekspor udang asal Tanah Air terus melaju. Meski belum terlalu signi fikan, sejak awal tahun ini posisi ekspor udang asal Indonesia di pasar Amerika Serikat (AS) dan Je pang kian mendominasi.

Tahun ini bisa jadi udang Indonesia unjuk gigi di pa sar udang global. Sepanjang kuartal pertama 2016 ekspor udang ke pasar AS dan Jepang dido mina si udang asal Indonesia. Tercatat pada lansiran data eksportir udang ke pasar Amerika Serikat (AS) pada (9/5) oleh National Marine and Fisheries Service, In do nesia membukukan angka ekspor udang sebanyak 8.909 ton. Perolehan ini mengungguli pesaing terberat Indonesia yakni India yang ditahan pada peringkat dua. Jika dibandingkan 2015 pada kurun yang sa ma, Indo nesia justru mencatat angka ekspor yang lebih banyak, yakni 9.618 ton.

Di Jepang, Indonesia juga berjaya di peringkat pertama dengan membukukan ekspor sebanyak 2.174.883 kg. Jumlah ini meningkat sebanyak 540.826 kg jika dibandingkan ekspor Februari 2016 ketika Indonesia masih berada di bawah bayangbayang India. Tren positif ini bisa jadi merupakan dampak dari upaya ekspansi para petambak udang nasional mulai tahun lalu.

Harga udang yang cenderung stabil tinggi dalam setahun terakhir mendorong mereka menambah pundi-pundi hasil panen udang. Tidak sedikit pengusaha baru yang langsung terjun da lam skala semi intensif, intensif, maupun supra intensif. Tambak udang di Indonesia masih sangat ber peluang dikembangkan. Alasannya karena bebas penyakit, permintaan dunia tinggi, pesaing-pesaing sedang terpuruk akibat penyakit Early Mortality Syndrome, serta Indonesia udangnya bebas residu tanpa antibiotik. Sejumlah daerah pesisir di Jawa dan Indonesia timur seperti Nusa Tenggara Barat disasar untuk wila yah pengembangan tambak baru. Untuk Jawa, wi