Budidaya Merawat Air Tawar Menjadi Hobi Orang

Manajemen yang baik Budidaya yang diterapkan oleh Reza merupakan budidaya secara intensif. Ia menerapkan manajemen air, kemudian ada jaring pada tiap kolam, manajemen sortir, dan termasuk keteraturan pemberian pakan. Reza memberi makan benih lelenya sebanyak empat kali sehari dengan pakan terapung agar ia bisa melihat pe rilaku dan agresivitas ikan saat meres pon pemberian makanan.

Jika menggunakan pakan terapung, kelebihan pakan bisa dilihat. Pertim bang annya, pakan yang tidak habis dimakan ikan nantinya akan mengendap ke bawah menjadi gas metan (racun). Air yang terkontaminasi dengan gas metan bisa diindikasikan dari warna cokelat muda yang muncul. Manajemen sortir yang diterapkan secara berkala bertujuan untuk menjaga keseragaman ukuran benih lelenya.

“Semisal ada yang mau beli ukuran 7- 8 cm, 8-9 cm, 9-10 cm, itu sama semua ukurannya, seragam ukuran, konsisten. Benar-benar disortir empat hari sekali,” terangn ya. Selain itu, manajemen sortir juga mengurangi kanibalitas yang terjadi selama pembenihan. “Kanibalisme di ukuran larva sampai 3-4 cm itu paling tinggi, makanya manajemen sortir itu perlu,” tandasnya.

Musim Hujan Datang Musim hujan menjadi tantangan tersendiri terhadap pembenihan lele. Musim hujan yang datang turut diikuti juga dengan bayang-bayang gagal panen. Ancaman penyakit seperti jamur bisa saja muncul dari hujan yang turun tanpa adanya pengawasan pada tambak. “Kondisi awan yang penuh dengan polusi mengakibatkan hujan yang turun bersifat asam,” keluh Reza.

Dia juga menjelaskan, kondisi hujan yang cenderung bersifat asam bisa mempengaruhi kualitas air kolam. Ter utama dari tingkat keasaman (pH). Reza mengatakan, pH yang terbaik untuk budidaya lele adalah pH netral (7), baik untuk pembibitan maupun pembesaran. Agar pH netral, dia juga melakukan kontrol air. “Kita punya tandon. Supaya pH jadi netral lagi, kita ganti airnya. Nanti air baru disalurkan dari pipa-pipa yang ada, kita cek pakai pH meter, pH-nya insya Allah 7,” ujarnya.

Saat hujan, selain dari mengukur kualitas air dengan pH meter, Reza ju ga melihat perilaku ikan. “Respons ikan agresif atau tidak, ada yang mati atau tidak, bila diperhatikan lebih da lam tidak ada jamur atau white spot di badan ikan, berarti ini tandanya se hat,” papar Reza. Benih yang mengalami kolaps maupun yang terkena white spot diberi perlakuan karantina dan diberikan obat her bal oleh Reza.

Ia biasanya menggunakan mengkudu sebagai obat alami. “Untuk ukuran kolam 2 x 2 m2 cukup satu sampai dua buah mengkudu,” ungkapnya. Reza bercerita, suhu yang baik saat pemijahan itu adalah suhu tengah, an tara 28 – 32o C. Pada tiap pemijahan suasana dikondisikan tertutup rapat semua. Sinar matahari yang masuk dan terperangkap membuat kondisi di dalam tempat pemijahan itu menjadi hangat.