Bisnis Marikultur Bikin Kantong Makmur

Bisnis Marikultur Bikin Kantong Makmur

Bisnis akuakultur menunjukkan prospek luar biasa. Tiongkok misalnya, menikmati laba sekitar US$6,9 miliar setiap tahun berkat bisnis perikanan budidaya. Besarnya konsumsi ikan sebagai sumber protein hewani mendorong permintaan ikan terus meningkat. Sementara, produksi ikan tangkapan turun sejak 1990 karena kelebihan tangkap (overfishing). Menilik kondisi itu, Andi J. Sunadim menilai bisnis marikultur atau budidaya laut sangat menguntungkan. Kebutuhan ikan di pasar dunia sangat tinggi tetapi belum dibarengi suplai yang mencukupi. “Bisnis akuakultur baru dimulai tahun 1950. Ini bisnis baru yang sedang ber kembang dengan sangat pesat,” ujarnya pada acara Indo Livestock Expo & Forum 2016 di Jakarta, Jumat (29/7). Indonesia memiliki beberapa kelebihan dari Tiongkok.

Yakni garis pantai Indonesia sangat panjang, 95 ribu km dan luas laut mencapai 6,159 juta km2 dengan kualitas air yang sangat baik serta cuaca relatif stabil. Pemanfaatan zona pesisir Nusantara untuk budidaya juga baru 4%. Sedangkan zona laut lepas belum termanfaatkan sama sekali. Apalagi, sambung pemilik PT Gani Arta Dwitunggal, bisnis akuakultur di Indonesia juga belum begitu marak. “Memulai bisnis ini sangat tepat karena kompetisinya masih rendah. Prospeknya sangat besar. Siapa yang masuk ke dalam industri ini lebih dulu, dia bisa me raup keuntungan luar biasa,” paparnya penuh semangat. Kakap, Kerapu, hingga Tuna Andi menjelaskan, ikan laut seperti kerapu, kakap, bawal bintang, hingga tuna sangat layak dibudidayakan lantaran nilai jualnya yang tinggi. Harga jual kera pu tikus misalnya, mencapai Rp400 ribu/kg, kerapu macan sekitar Rp130 ribu/kg.

Kedua jenis ikan ini banyak dipasarkan ke Tiongkok. Kakap putih dijual sekitar Rp65 ribu/kg, kakap merah Rp90 ribu/kg, dan bawal bintang Rp70 ribu/ kg. Ikan tuna ekor kuning memiliki nilai jual Rp 1 juta/kg. Budidaya kakap putih membutuhkan waktu sekitar 6 bulan/siklus. Dari satu lubang KJA bundar berdiamater 10 m dan kedalaman net 4 m, pembudidaya bisa meraih ke untungan sebesar Rp314,74 juta/si klus, ungkap produsen keramba jaring apung (KJA) bermerek Aquatec ini. Usaha marikultur perlu menyeimbangkan keuntungan, risiko, dan pengalaman. “Jika memulai dari nol, disarankan mulai dari yang gampang, seperti ka kap,” ujarnya.