Bahan Alam untuk Akuakultur Berkelanjutan

Bahan Alam untuk Akuakultur Berkelanjutan

Budidaya ikan dan udang menghadapi kendala serangan pe nyakit. Udang, ungkap Alexandre Vielle, setidaknya harus melindungi diri dari empat jenis penyakit. Yaitu, Early Mortality Syndrome (EMS), Enterocytozoon Hepato Penae (EHP), Whitespot, hingga White Feces Syndrome (WFS) yang kini tengah meresahkan pembudidaya di Indonesia. Ikan nila sejak dulu masih berkutat menghindari serangan Streptococcus. “Penyakit ini menyebabkan kerugian sekitar US$400 juta/tahun di se luruh dunia,” ujar Technical Support Aquaculture Development Olmix Indonesia ini pada acara Indo Livestock 2016 Expo & Forum di Jakarta (29/7). Sementara penyakit Aero monas dan white spot intens menyerang lele. Biosekuriti dan Sistem Imun Alex menuturkan, kehadiran penyakit bisa dicegah dengan memperhatikan biosekuriti dan sistem imun ikan dan udang. Biosekuriti dila kukan dengan menerapkan cara bu didaya yang baik. Sedangkan menjaga kekebalan tubuh melalui penye diaan pakan yang sehat. Budidaya udang di Indonesia menghadapi masalah utama biosekuriti karena dilakukan intensif sepanjang tahun dengan padat tebar cukup tinggi.

Sementara, sebagian pembudidaya kecil menghadapi keterbatasan modal dan informasi untuk mencegah dan menjaga lingkungan tambak dari ancaman penyakit. “Jika satu kolam terinfeksi penyakit, akan cepat sekali menyebar ke tambak yang lain,” kata Alex. Master lulusan SUPAGRO, Perancis ini pun menyoroti penerapan padat tebar udang yang cukup tinggi. Kepadatan sangat tinggi bertanggung jawab atas mewabahnya EMS di dunia. Ia menemukan tambak berkepadatan 300 ekor udang/m2 menggunakan teknologi bio flok di Bali. Menurut dia, aplikasi teknologi bioflok cukup sulit, jadi lebih baik mengelola banyak kolam dengan densitas lebih rendah, sekitar 200 ekor/m2 . Bahan Alami Setelah biosekuriti, sistem imun ikan dan udang harus diperhatikan. Vak si nasi cukup efektif meningkatkan imun ikan tetapi tidak pada udang. Sedangkan penggunaan antibiotik bisa menim bulkan resistensi. Karena itu, Olmix menghadirkan fitobiotik, yaitu, im buhan pakan yang berasal dari tumbuhan un tuk memperbaiki performa unggas, ruminansia, dan ikan. Produsen dari Perancis ini dengan na no teknologinya meramu fitobiotik dari alga dengan bahan alami seperti ragi, minyak atsiri, Copper, dan tanah liat (clay) yang bermanfaat memperbaiki pencernaan dan kesehatan ikan juga udang. Ramuan ini dikemas dalam produk inovatif bernama MFeed. “Alga ber asal dari lautan dan clay material dari ta nah. Ini alami dan ramah lingkungan.

Kombinasi kedua produk ini bisa memperbaiki imunitas dan daya cerna,” ulasnya. Clay mempunyai banyak lapisan untuk menyerap bakteri di tubuh ikan dan udang. Agar penyerapan lebih efektif, dengan teknologi khusus alga dan Copper disisipkan ke dalam clay. Alga menjaga ruang di antara lapisan clay lebih luas sehingga bisa menampung bakteri lebih banyak dan besar. Alga juga mengandung banyak ion logam yang membuat penyerapan nutrisi lebih efisien. Sedangkan Copper membunuh bakteri dan menghancurkannya. “Clay bersifat negatif. Ketika kami tambahkan alga dan Copper, maka menjadi positif. Kami melakukan itu karena bakteri bersifat negatif. Jadi, clay bisa berikatan dengan bakteri,” jelas Alex sambil menambahkan Copper yang digunakan tidak membahayakan udang atau ikan. Hasil penelitian di Thailand, udang yang diberi MFeed mengalami perbaikan konversi pakan (FCR) dari 1,42 menjadi 1,26 dan kelangsungan hidup (SR) dari 67% menjadi 80%. Udang terkena Vibrio harveyi pun tetap tinggi peluang hidupnya ketika mengonsumsi MFeed, mendekati 80%. “Untuk white feces, kami cukup yakin MFeed bisa membantu mengurangi tekanan bakteri dan membantu penyembuhan pasca-white feces. Kolam budidaya udang di Medan, Lampung, Situbondo, Banyuwangi yang menggunakan MFeed mengalami perbaikan setelah white feces,” katanya. Selain itu, MFeed terjamin stabil terhadap pemanasan sehingga tidak akan rusak selama proses pembuatan pakan.